Perkembangan hidup di era globalisasi yang semakin membeludak sekarang ini, seperti sudah mendekati titik nadir kehancuran. Globalisasi semakin mempengaruhi masyarakat untuk turut serta dalam meniti hidup yang terkesan modern. Segala bentuk aktivitas kehidupan tak lepas dari komponen global yang semakin menjelajah. Jika kita mau merenungkan secara seksama, persoalan yang melilit bangsa ini sebenarnya adalah menyangkut akhlak, moral, dan etika. Orang melakukan apa saja bebas tak terhalang asal tidak ketahuan, dan resiko ditanggung sendiri. Orang bisa bebas memanjakan diri tanpa rasa risih dengan lingkungan, karena masyarakat sudah sangat permisif.

Melihat pada sebuah fenomena yang memperlihatkan kemajuan dunia modern membuat masyarakat semakin antusias secara langsung ataupun tidak langsung yang terpengaruh oleh kemajuan dunia global saat ini. Terutama para pemuda, remaja atau pun para anak didik di negara kita yang semakin tren untuk mengadopsi budaya-budaya kebaratan. Kita lihat berapa banyak para pemuda yang semakin jauh dari nilai-nilai akhlak. Contohnya dari cara mereka berpenampilan dan berpakaian yang tidak sesuai dengan adat ketimuran (Ala Islam).

Batasan-batasan serta aturan-aturan berpenampilan sudah tidak dihiraukan lagi. Padahal sudah jelas dalam agama, khususnya agama Islam telah mengajarkan bagaimana dan dimana saja batasan-batasan aurat yang boleh diperlihatkan. Tetapi karena ketidaksadaran dan keinginan mereka untuk mencari tahu membuat mereka jadi salah langkah. Malah mereka semakin berani dan percaya diri dalam memamerkan pakaian mereka yang tidak senonoh serta penampilan yang mengundang kejahatan. Berapa banyak kasus-kasus kejahatan yang sering kita dengar dan kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari yang sebenarnya tidak jauh dari kesalahan yang mereka buat sendiri. Sehingga terkadang apa yang mereka atau kita rasakan adalah dampak buruk dari tindakan tersebut.

Lalu, selain itu bagaimana dengan cara berbicara dan bertutur kata yang tidak sesuai lagi dengan adat kehidupan orang timur yang menganut budaya ramah tamah, berbudi bahasa baik, sopan santun dan terdidik yang biasa bermunculan dari dunia pesantren. Semua sepertinya sudah pudar. Sering kita dengar berapa banyak kata-kata yang terbuang sia-sia dan tidak bermanfaat untuk dibicarakan. Seperti benar tapi tidak berisi. Berapa banyak kata-kata kasar yang terlontar dari mulut kita baik yang tidak disengaja atau pun yang memang sengaja diutarakan, seperti telah melekat dalam diri kita.  Padahal tidak satu pun agama mebolehkan berkata-kata kasar, berkata yang tidak ada manfaatnya apalagi Islam. Nabi mengajarkan, agar supaya memilih kata-kata yang bijak, serta menyusun redaksinya dengan bagus, karena khawatir akan menyakiti lawan bicaranya.

Dari itu, mari kita tengok adab sopan santun yang sudah tidak sejalan. Bagaimana cara mereka menghormati orang tua dan orang lain. Hormat kepada orang yang lebih tua, dan orang yang lebih muda dari mereka. Adakah kita lihat perbedaanya? Tidak bukan? Semuanya nampak sama. Malah yang sering terjadi adalah kesopanan tersebut sudah jarang terlihat. Rasa hormat seperti sudah tidak berperan lagi dalam proses sosialisasi kehidupan. Sehingga antara yang tua dan yang muda tak ada bedanya.

Demikianlah adanya budaya-budaya asing yang sering diartikan Globalisasi dan Modernisasi dan berdampak westernisasi yang masuk ke negara kita, semakin memperkuat merosotnya akhlak pada masyarakat khususnya para pemuda. Sehingga sudah jarang nampak lagi etika sopan santun terhadap orang lain. Budaya-budaya asing yang masuk ke negara kita, tidak sedikit kita jumpai sisi negatif yang terselip di dalamnya. Masyarakat pribumi yang kurang pengetahuan serta keteguhan akhlak terkadang tidak pernah menyaring budaya-budaya yang masuk tersebut. Begitupun dengan para pemuda dan kaum remaja yang mudah tergiur oleh kemodernisasian yang dibawa oleh bangsa asing.

Permasalahannya Lemahnya posisi orang tua dalam memberikan bekal pendidikanpun menjadi salah satu penyebab bagi anak dalam memilah milih mana yang baik dan buruk bagi dirinya. Selain itu lingkungan sekitar baik di sekolah, di pesantren ataupun masyarakat memiliki andil dalam peran anak dalam berkehidupan. Disinilah mental tersebut diuji. Mampu atau tidak kita membatasi diri dari hal-hal buruk tersebut, sangat bergantung pada tindakan kita dalam melawan arus globalisasiyang sering diartikan westernisasi yang semakin merajai negara kita.

Dari semua persoalan yang telah merasuki kaum remaja yang seakan-akan membenarkan persoalan yang seharusnya disalahkan. Mencari titik pembenaran walaupun dipaksankan. Maka, tanggung jawab besar bagi lembaga pendidikan baik sekolah terlebih pondok pesantren untuk mengurangi persoalan yang berdampak dari hadirnya globalisasi dan medernisasi yang telah menggrogoti budaya ramah tamah, berbudi bahasa baik, sopan santun dan sifat serta karakteristik kaum remaja.(*)

Oleh :
____________
*KHOFIFURROHMAN*, Penulis asal  Sana Laok Pamekasan itu aktif sebagai pembina umum Forum Lingkar Pena (FLP) Ranting Banyuanyar Putra, sekaligus anggota FLP Cab. Pamekasan. Organisasi yang pernah digeluti antara lain; redaksi majalah Al-Ikhwan, suara saluran dakwah Istiqomah FM Banyuanyar dan Kelompok Kajian Kepenulisan ISTIQOMAH Community. Sekarang, pria yang sering melontarkan pesan “Jangan Mati Sebelum Punya Tulisan” itu masih berlabuh di PP. Banyuanyar sebagai Kepala Sekolah SMA Tahfidz dan divisi guru tugas.*

“Sejarah hanya bisa diukir dengan dua nuansa warna, hitam, adalah tinta para ulama, dan merah, darah para syuhada”
(Abdullah Azzam)

***

Tradisi menulis di kalangan santri perlu dilestarikan. Karena santri adalah satu-satunya generasi penerus para ulama yang bisa mencerahkan dunia dan peradabannya. Menulis tidak hanya dapat mengawetkan peradaban saja tapi juga menjadi sarana paling mudah dalam berbagi wawasan, pengetahuan serta pengalaman dengan sesama, utamanya oleh santri yang belajar lebih dalam tentang Islam.

Santri tidak boleh berhenti melahirkan karya-karya seperti halnya buku, buletin bahkan kitab. Mengapa demikian?  Karena merekalah satuh-satunya kader Islam di dunia yang layak menghidupkan tradisi menulis dan harus menyampaikan risalah para Nabi. Bukankah ulama-ulama terdahulu membuat Islam jaya yang salah satunya dengan karya mereka yang sangat mendakwah dan menciptakan perpustakaan-perpustakaan besar?

Kadang kala ada semacam perasaan pesimis dan ketidakpercayaan diri serta rasa tidak pantas menulis. Perasaan demikian timbul karena barang kali mereka sudah lupa terhadap firman Allah yang berbunyi;
“Bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan, dialah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah dengan nama tuhanmu yang maha pemurah yang mengajari (manusia) dengan  pelantaran qalam. Dia mengajari manusia apa yang tidak di ketahuinya ”(Qs. Al-alaq:)

Memang, pernah diriwayatkan oleh sahabat Abu Sa’id Al-Hudri bahwa Rasulullah SAW. Bersabda seperti berikut;
”Jangan kalian menulis dariku selain Al-Qur’an. Barang siapa yang melakukan itu, maka hapuslah ! ”

Namun kendati demikian, para ulama berpendapat bahwa larangan tersebut hanya kekhawatiran Rasulullah semata akan bercampurnya ayat-ayat Al-Qur’an dengan tulisan lain, sehingga dapat merusak subtansi isi al-Qur’an. Setelah khawatiran itu lenyap Nabi kita tidak saja sekedar memperbolehkan tapi lebih dari itu.

Jika kalian bukan anak raja atau bukan pula ulama besar, maka menulislah! begitu Imam Al- Ghazali mengatakan. Perkataan itu menyadarkan kita bahwa tradisi menulis merupakan tradisi yang sangat erat ikatannya dengan Islam. Sehingga perlu adanya kesadaran dari kita, selaku santri untuk selalu berupaya tau menulis dan berdakwah. Dwy Sadoellah juga mengatakan bahwa “para  santri harus diberi peluang revolusinya sendiri, sebuah revolusi wacana, revolusi pemikiran, lahap semua buku, diskusi dan menulislah. ”

Perlu diperhatikan oleh kita bahwa setiap tulisan yang kita publikasikan mampu mempengaruhi sudut pandang seseorang. Terkadang tulisan kita terlalu kritis. Sehingga, banyak menimbulkan konflik yang ujung-ujungnya membuat si penulis masuk penjara. Tentu kalian pernah mendengar buku yang berjudul ‘Membongkar Gurita Cikeas, Skandal dibalik Bank Century’ karya George Junus Aditjondro, yang ditarik peredaranya setelah hanya sehari dipasarkan. Penyebab ditariknya buku tersebut sebab unsur tulisannya menohok penguasa sebagai lakon dibalik skandal Bank century. Maka, dari itu sebelum kita menulis langkah awalnya adalah mencari sumber referensi sebanyak mungkin dan karya kita tidak boleh melanggar norma-norma tertentu, baik bagi agama maupun pemerintah.

Memang persoalan fasilitas di pondok pesantren serba terbatas. Namun kita tidak harus mempermasalahkannya. Biar saat ini karya-karya kita tidak tersebar luas, akan tetapi dua atau tiga tahun kedepan tulisan yang kta tulis harus melejit dan mengemparkan dunia. Pemikiran  seperti itulah yang perlu ditanam pada diri kita. Sehingga tradisi menulis tetap berjalan walaupun melalui media seadanya.

Tradisi menulis sangat penting bagi sebuah pesantren sebagaima media dakwah Islam. Sebab tradisi periwayatan lisan pada masa kini tidak memiliki kekuatan yang sama dengan periwayatan lisan pada masa sahabat. Jadi, santri harus menulis.(*)

Oleh :
__________________
*SYAIFUL ANWAR*, Sumenep sebagai kota kelahiran, pada 23 Maret 1997, tepatnya di desa Basoka Rubaru. saat ini duduk di bangku kelas XI BHS MA Darul Ulum Banyuanyar.

"Santri adalah generasi penerus yang tidak hanya agamis tapi juga intelek. Bangsa yang besar di belakangnya selalu ada santri yang berdoa dan berusaha. Banga jadi santri"
***

Profesi santri bagi saya adalah sebuah kebanggan yang luar biasa. Siapa saja yang memilih menjadi seorang santri, dia sudah mengambil pilihan yang besar tentunya. Karena di pundak kaum santri-lah sebenarnya amanah besar dititipkan. Selama ini, santri ibarat lentera di tengah pusaran pertempuran peradaban yang kian mencekam. Bahkan pada saat gelora dan hiruk-pikuk hedonisme kian memanas, maka kaum santri tampil di garda paling depan sebagai benteng yang siap tangkis.

Memang, mendengar istilah Santri dan pesantren, mungkin yang akan terbesit di benak kita sebuah tempat menuntut ilmu agama, yang memilki peraturan ketat dengan sarana yang serba sederhana, sebuah tempat kuno yang tidak didukung dengan tekhnologi yang maju. Dan  bahkan andai kata orang tua kita  menawari kita untuk mondok di pondok pesantren. Mungkin kita akan banyak pertimbangan yang sangat lama atau langsung menolaknya. Berbeda jika orang tua kita menawari kita untuk belajar di sekolah luar (pendidikan formal), tanpa banyak kata pasti kita akan lansung mengiyakan. Itu hanya bagi orang yang berpikir dangkal. Tapi bagi orang yang benar benar berpikir akan eksistansi sebuah pesantren yang sejati. Maka, santrilah sebagai orang-orang pemenang, karena gerakan pertama yang berhasil dalam memberikan kontribusi yang amat besar terhadap kemerdekaan negara kita dulu adalah santri, berlanjut hingga sekarang, santri memilki peran penting dalam perdamaian masyarakat.

Apakah hanya dengan sarana yang serba terbatas itu, pesantren dipandang sebelah mata? Atau karena di pesantren tidak bebas, semuanya serba dibatasi dengan peraturan? Sarana dalam pesantren yang serba kurang, terlebih pesantren salafi, dimana hanya menggunakan kitab klasik sebagai bahan pembelajaran, dan tidak dilengkapi dengan fasilitas seperti tekhnologi; komputer, mikroskop juga internet dan lain sebagainya. Kendati demikian, kualitas ilmu yang didapat seorang santri lebih unggul daripada pendidikan formal di luar. Apalagi di bidang ilmu agama yang sangat mumpuni. Seperti, ilmu tauhid, ibadah, taswwuf, fiqih dan lain semacamnya.

*Santri*

Ada beberapa hal yang menjadi ciri khas para santri. Diantaranya;

Pertama ; berbudi pekerti yang baik

Pesantren sebagai tempat pendidikan bagaimana bersikap baik (mahmudah) seperti, tawadduk (rendah hati), ta’awwun (tolong menolong), sabar (menahan diri), Qonaah (menerima apa adanya) dan lain sebagainya. Dan menjauhkan diri dari sifat yang buruk, seperti halnya dengki, dusta, sombong dan lain sebagainya. Dengan itu, hal maklum jika santri lebih disegani oleh masyarakat luas. Karena sifat-sifat itulah yang dimiliki oleh seorang santri.

Kedua; penggerak amal makruf nahi mungkar

“Dan hendaklah diantara kamu segolongan umat yang menyeru pada kebajikan, menyuruh pada yang makruf dan mencekah pada yang mugkar. Mereka adalah orang-orang yang beruntung”  (Q.S. Al-Imron, 104)

Ayat itulah yang dijadikan pedoman oleh santri dalam hidupnya. Salah satu ciri-ciri seorang santri, mereka mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan dan mencegah perbuatan mungkar. Mereka adalah penjaga perdamaian dan ketentraman di muka bumi, seperti halnya memberikan ceramah dan yang lainnya. Dengan itulah, santri memiliki peran penting dalam perjalanan agama islam sebagai  generasi para ulama yang akan menyampaikan risalah nabi kita.

Ketiga ; penuntun masyarakat

Sebagai umat beragama, sudah sewajarnya jika mempunyai aturan dan kewajiban dalam agama yang disandang. Bagi orang Islam, rukun Islam merupakan hal paling pokok dalam kehidupannya. Dengan itu, mereka membutuhkan seorang guru untuk mengajari mereka. Sebab ajaran agama Islam tidak cukup dengan teori saja melainkan butuh praktek dan tata cara pelaksanaannya. Di Indonesia, ilmu agama tidak bisa didapatkan secara maksimal dalam pendidikan formal, karena waktu yang sangat singkat dan kurangnya praktek dalam kesehariannya. Satu-satunya tempat untuk bisa belajar secara menyeluruh tentang ilmu agama hanyalah di pondok pesantren saja. Sebab di pesantren serba mengandung nila-nilai agama yang sangat kental, seperti adanya shalat berjema’ah, ajian kitab dan rutinitas baca Al-Qur’an. Sehingga santrilah penyalur dari ilmu agama kepada masyarakat.

Keempat ; selalu taqwa kepada allah

Banyak orang yang ingin mendapatkan kesuksesan saat mereka dewasa. Ada yang berharap menjadi orang kaya, orang terhormat, dan orang yang berkuasa. Namun, banyak yang menemukan bahwa impian sulit menjadi kenyataan. Dan banyak pula yang hidupnya tidak tenang setelah meraih impiannya.

Hal itu biasanya disebabkan karena rasa tidak puas dan kekhawatiran akan hilangnya apa yang telah mereka miliki. Padahal dalam dalam sebuah ayat sudah dijelaskan oleh Allah seperti berikut;.

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Dengan berpegang pada firman Allah itulah santri menjalani kehidupan yang fana’ ini. Mereka percaya bahwa dengan menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya mereka akan dicukupi rizkinya oleh Allah. Mereka memasrahkan seluruh hidup mereka kepada Allah. Mereka percaya bahwa Allah telah menanggung rizki mereka di dunia.

Kelima ; tegas dan cerdas

Memang seharusnya santri berjiwa pemberani untuk setiap kebenaran dan berkata salah untuk setiap kebatilan tanpa harus mengenal kompromi. Namun demikian ketika mereka berhadapan dengan masalah furu’iyah, maka pada kondisi seperti itu santri harus mampu mengedepankan nilai-nilai toleransi dan memberikan pemahaman yang baik kepada masyarakat cara menyikapi perbedaan itu dengan sebaik mungkin, bahwa masalah furu’ dalam agama bukanlah sebuah persoalan yang harus ditanggapi serius untuk kemudian dijadikan ajang perdebatan.

Sayang seribu sayang, banyak orang yang tidak mengetahui hal-hal di atas. Mereka meremehkan santri, padahal santri memiliki kelebihan-kelebihan seperti di atas dan juga keunggulan-keunggulan lain yang sangat banyak jumlahnya.

Oleh karena itu, sebelum sesal datang di kemudian hari, jadilah seorang santri. Jadilah santri yang benar-benar santri (santri tulen), jangan menjadi santri yang asal-asalan!(*)

Oleh :
________________
*M SIRYI ZAMIL*, Santri Banyuanyar asal Tobai Barat Sokobanah Sampang. The founding father Forum Silaturahmi Antar Santri dan Alumni Sampang (FORSIASA)


Jauh tahun sebelum Forum Lingkar Pena Ranting Banyuanyar diresmikan, sejatinya sudah ada beberapa santri di Banyuanyar yang telah menggadang keberadaan FLP di Banyuanyar, demikian, pada masa tersebut, FLP hanya berbentuk sebuah inisiasi, tanpa ada program regular dan berkesinambungan. Beberapa inisiatornya antara lain Kholisul Ibad dan Waris. (ketua dan waka. OSIS MADU), yang mendapat titah dari Ny. Hj. Taqiyyah, putri RKH. Mohammad Syamsul Arifin. Yang tidak jauh sebelum itu, membentuk FLP di pondok putri.

Bertepatan pada Tahun 2004, Hafiz, Hamli, Abdul Ghafur, Edi dan Muslim kemudian menginisiasi untuk mewujudkan FLP R Banyuanyar yang resmi. Berkat kerja keras dan usaha teman-teman semuanya, akhirnya pada 26 Maret 2005, FLP R Banyuanyar diresmikan oleh Mas Bachtiar H.S, Mas Haikal Hira Habibillah dan Mas Kukuh, sebagai perwakilan FLP Jawa Timur. Lahirnya FLP Ranting Banyuanyar menjadi motor lahirnya FLP di pulau Madura (pertama di Madura). Karena pasca munculnya FLP R. Banyuanyar ini, beberapa pondok pesantren di daerah Madura mulai ada, dan termasuk FLP Cabang Pamekasan.

Peresmian FLP  Banyuanyar tersebut kemudian menjadi turning point bagi kemajuan dan keberlangsungan komunitas penulisan ini di Banyuanyar, sebab dengan peresmian tersebut, pengurus FLP memiliki kesempatan yang lebih luas lagi, untuk meningkatkan pengetahuan kepenulisan, dan memperluas jaringan dengan penulis FLP dari seluruh Indonesia. karena pasca peresmian, FLP khusunya Pengurus Wilayah Jawa Timur memfasilitasi kader dengan berbagai program seperti writing camp dan training for trainer yang diselenggarakan di berbagai kota di Jawa Timur.

Oleh karena itu sebagai organisator harus mampu menyesuiakan dengan visi dan misinya, untuk menjadi sebuah organisasi yang memberikan pencerahan melalui tulisan dan mencetak generasi pedakwah dengan tulisan. Sekaligus Meningkatkan budaya membaca dan menulis di kalangan santri dan masyarakat.

Periodasi  FLP Ranting Banyuanyar :
Ada beberapa organisator yang telah sudi membolak-balikkan idenya untuk kemajuan FLP R banyuanyar :
  1. Hafiz Al Asad (2005-2007)
  2. Syaiful Bahri (Ipunk) (2007-2010)
  3. Fathor Rosyid (2010)
  4. Mawardi Aziz (2010-2012)
  5. Muammar Nizami (2012)
  6. Zainullah (Jimmy) (2012-2013)
  7. M. Siryi Zamil (2013-2015)
  8. Moh. Ali Wafa (2015-2016)
  9. Arbaien (2016-2017)
  10. Maulidi (2017-2018)
  11. Hanif Pratunggal (2018-2019)
Program kerja atau kegiatan FLP Ranting Banyuanyar

Tataran program FLP telah di bentuk dalam Buku Panduan Pengurus FLP R Banyuanyar yang di dalamnya sudah tercantum semua kegiatan-kegiatan entah program mingguan, bulanan dan tahunan sebagai berikut :
  1. Writing Class (pertemuan rutin  malam Selasa  dan Jum’at),
  2. Tongkrongan Inspirasi Menulis (TOPLIS), pengkemasan nama dari kebiasaan anggota FLP nongkrong sekaligu program pengembangan untuk pengodokan anggota di bidang tulis-menulis seperti Puisi, Cerpen dan Artikel,
  3. Penerbitan Buletin Selembaran SHADAQO, yang biasa terbit waktu ada agenda besar pesantren, seperti acara peradaban dsb.
  4. Penerbitan ORION (Bukan Buletin Bukan Majalah), yang biasa terbit tiap bulan.
  5. Penerbitan Antologi  Tahunan FLP Menulis.
Pesan FLP Ranting Banyuanyar :
  1. Menulis itu adalah sarana paling mudah untuk berbagi. Mungkin kita tidak mampu memberi secara finansial, sebab kita bukan orang berada. Tapi  dengan menulis, kita bisa memberikan sebuah arti kepada sesama dan mengajaknya akan kebaikan.
  2. Menulis berarti mencatat nama kita di panggung sejarah. Mengabarkan kepada dunia bahwa kita benar-banar ada, seperti tokoh-tokoh terdahulu, salah satunya Iman Al-Gazali yang sampai saat ini karyanya masih dibaca banyak orang. Hidupnya berarti.
  3. Dan yang terpenting bagi kita, adalah dakwah bil qolam... terlebih bagi kaum muslimin. Maka dari itu, menulislah untuk berdakwah.[]
“FLP TONGKRONGAN ORANG-ORANG KREATIF!”

*Narasumber :
1. Hafiz Al- Asad (Pendiri FLP R. Banyuanyar Sekaligus Ketua Pertama),
2. Syaiful Bahri (Ketua Kedua)
3. M.Siryi Zamil, Sirajul Munir, dan Husnor Rofiq (Team Cyber FLP R. Banyuanyar)